Hilangnya
Kesabaran Isi Bumi
Oleh : Wita Asmanijar
Era zaman industry 4.0, merupakan
zaman berbasis teknologi. Tetapi, sangat disayangkan karena kecanggihan
teknologi yang tidak mempertimbangkan ramah lingkungan mengakibatkan beberapa
kefatalan salah satunya adalah kualitas air sungai deli yang semakin miris atau
memprihatinkan. Manusia merupakan predator yang berbahaya bagi bumi, dengan
jalan pikiran yang tak pernah puas dengan apa yang telah di capai dan memiliki
sifat tamak dan merusak.
Banyak keindahan
alam yang telah kita saksikan dibumi, kenapa kita harus merusaknya? Sesuatu
yang tak pernah menggangu, sesuatu yang tak pernah merugikan, tanpa disadari
malah memberi kita suatu kehidupan, memberi kita ketenangan dan melindungi kita
dari bencana. Kalau tidak kita siapa lagi yang akan menjaga keindahan alam?
Alam juga memiliki rasa
sama halnya seperti kita manusia, jadi “Jika
Alam Saja Terasa dengan Apa Isi Hati Manusia, Bagaimana Pula Manusia Menjadi
Kejam kepada Alam yang Memberikan Udara Segar untuknya hidup?”.
Manusia
begitu menyedihkan, egois, rakus, sok bekuasa, sombong, dan tidak merasa
bersalah terhadap Alam. Andai manusia tau tentang apa yang dirasakan alam ini,
habis sudah kesabarannya melihat tingkah manusia yang seperti raja yang berbuat
semena-mena terhadap alam. Sebagaimana isi dari Hadits Qudsi yang menyatakan “Tiada suatu malam pun melainkan laut muncul pada-Nya
sebanyak 3 kali meminta izin kepada Allah, untuk menenggelamkan mereka (manusia
yang ada didaratan, tetapi Allah Azza
wa Jalla menahannya).
Sepenggal
hadits diatas, buka hati, buka mata, buka pikiran begitu sayang seorang
pencipta kepada umat-Nya tak membiarkan umat-Nya mati dengan sia-sia. Dia yang
memberi kehidupan, memberi keindahan, memberi nikmat kehidupan yang tiada
terhingga, lantas masih bisakah kita sebagai hamba di depan-Nya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar