Indahnya
Sungai Deli (Tapi Dulu)
Oleh Johanes Simatupang
Sumber:https://id.wikipedia.org
“Katanya”
Sungai Deli itu merupakan cerminan peradaban Kota Medan sejak masa lampau.
Sungai yang dahulu dikenal dengan sebutan Sei Deli ini, terletak di ibu kota
Provinsi Sumatera Utara, menjadikan sungai ini sangat berjaya di masa
Kesultanan Deli. Dengan hulu di Kabupaten Karo dan Kabupaten Deli Serdang,
Sungai Deli berhilir ke pusat Kota Medan dan bermuara di Selat Malaka.
Yang Saya tau Sungai Deli ditetapkan
sebagai bagian dari Wilayah Sungai (WS) Belawan-Ular-Padang yang disebut dengan
Daerah Aliran Sungai (DAS) pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat No. 04/PRT/M/2015. Areal DAS Deli memiliki luas 48.162 hektare, dengan
panjang 73 kilometer dan lebar 5,58 meter.
Dikutip
dari buku berjudul “Jejak Medan Tempo Doloe” yang ditulis oleh Farizal
Nasution, kala itu Sungai Deli bagian utara, barat dan timur laut bermukim suku
Melayu, bagian barat daya ditempati kelompok etnik Tamil, orang-orang Cina mendiami
bagian timur ke arah pusat pasar dan bagian selatan dihuni oleh kaum Eropa.
Pada tepi Sungai Deli dahulu
terdapat “Labuhan Deli”, cikal bakal Pelabuhan Belawan saat ini. Tahun 1915,
Labuhan (pelabuhan) Deli dipindahkan ke Belawan karena Sungai Deli yang mulai
dangkal menyebabkan kapal sulit berlabuh.
Kerennya
lagi Di era kolonial Belanda, perkembangan Kota Medan berpusat di pertemuan
Sungai Deli dan Sungai Babura. Banyak gedung milik Belanda maupun pengusaha
perkebunan dibangun di kawasan tersebut. Sepanjang alur Sungai Deli yang
melintasi pusat Kota Medan juga menjadi pemukiman bagi orang-orang Eropa. Apa
tidak keren coba? Sepanjang alur Sungai Deli jadi pemukiman bagi orang-orang
Eropa.
Kota Medan pada tahun 1945 mengalami
perkembangan pesat. Banyak lahan di sepanjang jalur Sungai Deli yang dibangun
perkantoran sehingga kawasan ini terkenal padat aktivitas. Beberapa bangunan
yang berada pada daerah ini adalah percetakan, stasiun kereta api, Wisma
Benteng, Hotel De Boer (sekarang Grand Inna Medan), de Javasche Bank (sekarang
Bank Indonesia), Deli Maatschappij (sekarang kantor Gubernur Sumatera Utara),
hingga de Esplanade (sekarang Lapangan Merdeka).
Hebatnya lagi… Sungai Deli yang
merupakan sungai warisan Kesultanan Deli, dahulunya digunakan sebagai jalur
transportasi hasil perkebunan dan tempat penangkapan ikan. Hal tersebut senada
dengan yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Ilmu Sejarah Universitas
Sumatera Utara, Edi Sumarno.
Dan..
“Sungai Deli cukup dikenal bahkan sebelum masa kolonial Belanda. Pada awal abad
ke-19 dinyatakan bahwa sungai ini adalah sungai penting karena sering dijadikan
tempat perdagangan lada dan tembakau. Sungai Deli juga dijadikan sebagai jalur
transportasi karena dahulu belum ada kereta api atau pun pesawat terbang. Hal yang
terpenting adalah menghubungkan daerah pesisir hingga pedalaman atau antara
hulu hingga hilir. Barang-barang dari hulu diekspor ke hilir dan disebarkan ke
pasar atau ke semenanjung, dan juga barang-barang dari luar masuk dari pesisir,
jadi semacam pertukaran ekonomi,” ungkap Edi.
Pada tahun 1820-an, Sungai Deli
menjadi pusat perdagangan sehingga dijadikan maskot bagi Kesultanan Deli. Kala
itu warga juga sangat menjaga kelestarian Sungai Deli, sehingga mayoritas
posisi rumah di bantaran Sungai Deli menghadap ke arah sungai.
“Dahulunya
posisi rumah menghadap sungai, karena warga sekitar melakukan perdagangan lada,
tembakau, madu dan lainnya. Berbeda dengan sekarang, posisi rumah membelakangi
sungai, sehingga menyebabkan munculnya pola pikir bahwa sungai itu seakan tidak
penting lagi. Apalagi dengan berkembangnya zaman, sungai sekarang malah sebagai
tempat sampah,” jelasnya lagi. Oala.. ternyata lebih keren masyarakat zaman
dulu daripada sekarang ya.
Okelah,
Sekian Indahnya Sungai Deli kebanggaan kita pada zaman dahulu.

Mantap
BalasHapusKerenlah
BalasHapus