Sungai yang Sehat, Menjadi Sekarat
Oleh : Raimondo Limbong
“Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan,
sayang engkau tak duduk di sampingku kawan. Banyak cerita yang mestinya kau
saksikan di sungai deli yang sekarat…” Mungkin ini merupakan nyanyian ataupun
syair yang cocok untuk menggambarkan kondisi dari sungai deli saat ini. Kenapa
seperti itu? Alasannya karena mirisnya kondisi dari sungai tersebut.
Saat
aku berjalan menyusuri sungai di kampung kelahiranku, saya merasakan udara
sejuk, air mengalir yang jernih dan pemandangan yang indah. Berbeda dengan saat
saya menyusuri sungai deli saya tidak melihat air di sana, yang terlihat hanya
jenis cairan berwarna kuning cokelat, aroma yang menyengat jauh dari kata
segar. Sungguh miris melihat kondisi sungai deli saat ini. Yang dahulunya
merupakan sumber kehidupan dan sumber mata pencaharian sekarang sudah sekarat,
semua cerita hanya tentang sampah… sampah… dan sampah.
Sumber: Merdeka.com
Masyarakat termasuk anak-anak melaksanakan kegiatan
17-an di sungai deli
Tidak cukup sampai disitu, saat kita
menyusuri hulu dari sungai deli pemandangan yang sangat memprihatinkan ialah
kondisi hutan yang sudah gundul hal ini akan menyebabkan mudahnya tanah
terkikis oleh air. Melihat semua kondisi tersebut apakah kita masih bisa
mengatakan bahwa sungai deli itu masih sehat? Apakah kita sanggup mengatakan
bahwa sungai deli itu sumber kehidupan? Tidak aka nada satu orang pun yang
sanggup mengatakan hal tersebut. Namun di sisi lain masih ada sebagian
masyarakat sekitar sungai deli yang masih menggunakannya dalam kehidupan
sehari-hari, bahkan anak mereka masih sanggup berenang di sana. Sungguh
pemandangan yang indah melihat mereka berenang bersama, bermain bersama dibalik
kondisi sungai deli yang seperti itu.
Siapakah
yang bertanggung jawab atas kelestarian sungai deli? Itu merupakan tanggung
jawab semua elemen tak terkecuali, mulai dari pemerintah hingga masyarakat
biasa. Karena untuk menjaga kebutuhan kita bukan orang lain, menjaga kesehatan
kita juga bukan orang lain tetapi diri kita sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar