Mau
Dibawa Kemana Sungai Seperti Ini ?
Oleh : Ivana Frandika Siboro
Sumber : Tribun Medan
Sering ku bertanya, mau dibawa kemana
sungai seperti ini ? Mau ditunjukkan kemana juga sungai yang menjadi maskot
kota medan tercinta ini ? Kemana semua orang ? Tidak peduli ? Ingin menyalahkan
siapapun tidak habis-habisnya. Pertanyaan itu yang selalu ku lontarkan saat
melihat sungai deli ini.
Setiap
aku kesana selalu bertanya apakah masyarakat tidak berperan untuk menjaga
kebersihan sungainya ? Apakah mereka tidak ingin menggunakan air sungai ini ?
Jawab mereka yang selalu ku dengar dan hampir terus aku dapatkan, “kami tidak
ingin merusak, padahalan kami terus menjaga kebersihan sungai kami. Tetapi
mengapa kami disalahkan? Padahalan aliran sungai deli yang sangat luas ini yang
mengakibatkan kami harus menerima resiko yang ada. Lalu, kami yang sudah
menerima imbasnya, kami terus yang disalahkan. Kami pun ingin menikmati
bersihnya sungai kami. Tapi apalah daya kami kemampuan kami dalam menjaga
sungai ini hanya segini batasannya”. Dan selalu mereka bertanya seharusnya
salahkan pemerintah? Salahkan pemerintah? Ini yang menjadi pertanyaan besarku.
Mengapa harus pemerintah ? Dan selalu mereka jawab “Iya salahkan pemerintahnya,
kami selalu mengelukan nasib sungai ini. Mulai menemui kepala desa, kelurahan
sampai yang tertinggi di kota medan ini. Tapi apa jawaban dari mereka tidak
ada, respon pun tidak ada. Kalau pun ada kunjungan itu hanya kerja yang harus
dipublik doang padahalan semua itu nol”.
Terlihat
kekesalan masyarakat sekitar sungai tersebut saat diriku menanyakan apa yang
seharusnya mereka dapat tapi tak pernah didapat. Hanya kata yang saling
menyalahkan mereka. Yang bisa aku simpulkan kalau pun memang masyarakat saja
yang berperan, seberapalah usaha mereka dapat menjaga sungai ini. Karena apa,
kalau pun mereka menjaga itu hanya bisa membersihkan bagian pinggir sungai. Itu
pun syukur bisa mereka ambil karena tumpukan sampah yang begitu menggunung.
Kalau pun ada menjaga, itu pun hanya beberapa orang yang akan menjaga sungai
itu.
Sudah tidak perlu lagi ditanya salah
siapa, salah pemerintah itu. Itu semua tidak perlu, lalu salah masyarakat ? Itu
juga tidak perlu. Malah yang ingin kutanyakan mau dibawa kemana sungai seperti
ini. Mau sampai kapan keadaan sungai ini ? Mau sampai kapan saling menyalahkan.
Jika semua saling menyalahkan. Kapan bertindaknya, aku ingat pepatah mengatakan
“tong kosong nyaring bunyi”. Kata-kata ini yang pantas kalau kita hanya ngomong
kami sudah menjaga, kami sudah mengadu
kesana kemari. Tapi itu semua jika tidak ada tindakan maka semua kosong. Tak
akan pernah orang-orang melihat ataupun menikmati sungai deli yang bersih, yang
bisa dimanfaatkan.

bagus kak
BalasHapusTerbaik
BalasHapusBagus
BalasHapus