GOOD BYE SUNGAI DELI
Oleh Gunplawan Lumban Tobing
Menyusuri pemukiman yang
berada dibelakang gedung pencakar langit tepatnya di Kampung Aur bukanlah
menjadi hal yang luar biasa. Pemandangan yang ditawarkan sudah menjadi buah
bibir warga Kota Medan sejak lama. Hangat diperbincangkan sampai akhirnya saya juga
ingin mengetahui seperti apa dan bagaimana perkembangannya. Saya mulai
melangkahkan kedua kaki untuk melihat dengan kacamata saya sendiri. Saya
ditemani oleh teman saya yang juga tergabung dalam sebuah komunitas pemerhati
lingkungan dan masyarakat. Dua pasang kaki melewati gang yang tidak seberapa
besar selama 20 menit. Tak lama saya dan rekan saya mendapati pemandangan itu.
Sebuah pemandangan dengan kondisi yang bisa dikatakan tidak aman dan sangat
memperihatinkan.
Sumber : Kompas
Bantaran Sungai
Deli yang memiliki panjang 76 kilometer (km) dengan tiga wilayah Daerah Alisan
Sungai (DAS), yakni Kabupaten Karo dan Simalungun di hulu, Deli Serdang dan
Sergai di tengah serta Kota Medan di hilir hingga bermuara ke laut Belawan
memang sudah tidak layak dikonsumsi lagi. Namun apalah daya, masih banyak warga
yang tetap berteman baik dengan-Nya. Saat ini saja, tak terhitung berapa lembar
sampah yang hanyut bersamaan dalam setiap harinya. Bau busuk yang sedikit demi
sedikit menusuk indra penciuman siapa saja yang berada di kawasan ini sudah
mulai terasa. Pinggiran Sungai Deli juga tampak menyempit. Limbah padat dan
cair yang berasal dari industri, domestik serta peternakan menambah cepat
proses say to goodbye bersihnya Sungai Deli.
Saya juga melihat
di tengah dan di hilir sungai sudah dipenuhi limbah industri dan rumah tangga
yang menambah kadar kerusakan ekosistem air sungai. Rendahnya kesadaran
lingkungan dan kebiasaan buruk warga serta pengusaha yang membuang limbah di
sungai, kian memperburuk kondisi sungai. Sampah rumah tangga dan limbah
industri, hotel, rumah sakit bercampur aduk menjadi satu kesatuan. Seolah-olah
Sungai Deli beralih fungsi menjadi Tempat Pembuangan Sampah (TPS), bukan lagi
tempat mencari nafkah atau tempat untuk menyalurkan hobi (misal: memancing).
Bantaran Sungai Deli juga tidak dilengkapi dengan
ruang hijau. Di bawah terik sang surya, saya dan rekan saya terus menyusuri
perkampungan tersebut dengan maksud mencari dimana ada ruang hijau yang
setidaknya dapat membantu kestabilan lingkungan walaupun pada dasarnya kawasan
tersebut sudah memasuki zona tidak aman untuk dijadikan tempat berkehidupan.
Namun warga bantaran Sungai Deli nyatanya hampir sebagian besar tidak menyadari
itu. Warga bantaran Sungai Deli juga tampak “biasa saja” dengan dampak yang
ditimbulkan dengan keadaan sungai dan air bersihnya yang sudah total berubah. Sampai saat ini juga, pemerintah dari struktur
terendah hingga pemerintah pusat sendiripun tak mampu menegakkan supremasi
hukum dalam melindungi lingkungan di sekitar DAS. Pembiaran penebangan hutan
dengan berbagai alasan tanpa diikuti tindakan konservasi, atau bahkan kebijakan
yang dengan sengaja memberi efek buruk bagi lingkungan, mempercepat proses kerusakan
ekosistem Sungai Deli.






