Kamis, 12 Maret 2020

Wajib dibaca dongs


GOOD BYE SUNGAI DELI
Oleh Gunplawan Lumban Tobing



           Menyusuri pemukiman yang berada dibelakang gedung pencakar langit tepatnya di Kampung Aur bukanlah menjadi hal yang luar biasa. Pemandangan yang ditawarkan sudah menjadi buah bibir warga Kota Medan sejak lama. Hangat diperbincangkan sampai akhirnya saya juga ingin mengetahui seperti apa dan bagaimana perkembangannya. Saya mulai melangkahkan kedua kaki untuk melihat dengan kacamata saya sendiri. Saya ditemani oleh teman saya yang juga tergabung dalam sebuah komunitas pemerhati lingkungan dan masyarakat. Dua pasang kaki melewati gang yang tidak seberapa besar selama 20 menit. Tak lama saya dan rekan saya mendapati pemandangan itu. Sebuah pemandangan dengan kondisi yang bisa dikatakan tidak aman dan sangat memperihatinkan.
Sungai Deli sangat jauh berbeda, kali ini ia menghadirkan suasana yang tidak menyenangkan dan jorok. Walaupun demikian, masih juga banyak bahkan bertambah banyak warga yang menyempiti wilayah tersebut dan menggantungkan hidupnya dengan bertempat tinggal di bantaran Sungai Deli yang dengar-dengar sudah tak layak lagi. Siang terik mentari tepat berada di ubun-ubun, tampaknya panas tak membuat warga bantaran Sungai Deli meninggalkan aktivitasnya. Mereka masih tetap memanfaatkan Sungai Deli untuk mencuci pakaian, alat-alat rumah tangga serta untuk dikonsumsi setiap harinya. Walaupun secara kasat mata, air Sungai Deli sudah keruh, menguning dan sedikit berbau. Tampak pula segerombolan anak-anak yang menjatuhkan badannya ke dalam sungai dari pinggir sungai yang agak sedikit tinggi. Mereka tampak menikmatinya, tertawa kegirangan tanpa memperdulikan seberapa kotor Sungai Deli saat ini. Mereka tetap mandi.
Sumber : Kompas
Bantaran Sungai Deli yang memiliki panjang 76 kilometer (km) dengan tiga wilayah Daerah Alisan Sungai (DAS), yakni Kabupaten Karo dan Simalungun di hulu, Deli Serdang dan Sergai di tengah serta Kota Medan di hilir hingga bermuara ke laut Belawan memang sudah tidak layak dikonsumsi lagi. Namun apalah daya, masih banyak warga yang tetap berteman baik dengan-Nya. Saat ini saja, tak terhitung berapa lembar sampah yang hanyut bersamaan dalam setiap harinya. Bau busuk yang sedikit demi sedikit menusuk indra penciuman siapa saja yang berada di kawasan ini sudah mulai terasa. Pinggiran Sungai Deli juga tampak menyempit. Limbah padat dan cair yang berasal dari industri, domestik serta peternakan menambah cepat proses say to goodbye bersihnya Sungai Deli.
Saya juga melihat di tengah dan di hilir sungai sudah dipenuhi limbah industri dan rumah tangga yang menambah kadar kerusakan ekosistem air sungai. Rendahnya kesadaran lingkungan dan kebiasaan buruk warga serta pengusaha yang membuang limbah di sungai, kian memperburuk kondisi sungai. Sampah rumah tangga dan limbah industri, hotel, rumah sakit bercampur aduk menjadi satu kesatuan. Seolah-olah Sungai Deli beralih fungsi menjadi Tempat Pembuangan Sampah (TPS), bukan lagi tempat mencari nafkah atau tempat untuk menyalurkan hobi (misal: memancing).
Bantaran Sungai Deli juga tidak dilengkapi dengan ruang hijau. Di bawah terik sang surya, saya dan rekan saya terus menyusuri perkampungan tersebut dengan maksud mencari dimana ada ruang hijau yang setidaknya dapat membantu kestabilan lingkungan walaupun pada dasarnya kawasan tersebut sudah memasuki zona tidak aman untuk dijadikan tempat berkehidupan. Namun warga bantaran Sungai Deli nyatanya hampir sebagian besar tidak menyadari itu. Warga bantaran Sungai Deli juga tampak “biasa saja” dengan dampak yang ditimbulkan dengan keadaan sungai dan air bersihnya yang sudah total berubah.  Sampai saat ini juga, pemerintah dari struktur terendah hingga pemerintah pusat sendiripun tak mampu menegakkan supremasi hukum dalam melindungi lingkungan di sekitar DAS. Pembiaran penebangan hutan dengan berbagai alasan tanpa diikuti tindakan konservasi, atau bahkan kebijakan yang dengan sengaja memberi efek buruk bagi lingkungan, mempercepat proses kerusakan ekosistem Sungai Deli.

Silahkan membaca guys


“MIRIS”,SUNGAI DELI TERKONTAMINASI OLEH SAMPAH MASYARAKAT MEDAN
Oleh Fainal Lumbanbatu


Sumber : pribadi

     Mendengar kata Sungai pasti akan terbayang sebuah Maha Karya Alam yang sangat “ISTIMEWA” tentunya, dimana kita dapat merasakan Indahnya Anugerah Sang Pencipta. Sungai  memiliki peranan penting bagi kehidupan sehari-hari dimana sungai sebagai sumber mata air, manfaat lain yang juga dapat kita peroleh dari sungai yaitu sebagai wahana wisata bermain dan juga sebagai sumber mata pencarian untuk masyarakat. Air sungai mengalir dengan jernih dengan kesegaran yang seakan-akan menghilangkan rasa dahaga dibalik hiruk-pikuk suasana kota.

          Tetapi miris sungai deli yang dulu konon ceritanya adalah sungai beraliran air jernih berubah menjadi sungai yang beraliran air kumuh,keruh dan dipenuhi sampah-sampah masyarakat. Sungai  deli merupakan salah satu sungai panjang yang ada di kota medan yang menghubungkan mulai dari daerah karo,deli serdang dan kota medan, serta bermuara sampai ke laut belawan. Sepanjang aliran sungai deli masyarakat banyak bergantung hidup mulai dari penyedia air dalam pertanian sampai dengan penyedia air dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya sungai deli untuk kehidupan sebagai penyedia sumber mata air semakin marak. Dimana sampah bertebaran di depanjang tepian sungai deli keruhnya air dan bau yang di keluarkan oleh sungai semakin parah.
            Jika dibiarkan terus-menurus maka sungai deli akan menjadi sebuah bank sampah dari masyarakat yang kurang mengerti akan pentingnya peranan sungai bagi kehidupan sehari-hari. Apabila kita masih terus membuang sampah sembarangan dan pabrik atau perusahaan industri masih membuang sampah ke sungai, hal itu akan membuat  keadaan sungai deli terus menerus memburuk dan itu akan menurunkan kualitas air pada sungai deli tersebut.  Hal sepele yang akan berakibat fatal untuk generasi yang akan mendatang,secara tidak langsung kita mengajarkan mereka untuk tidak perduli akan lingkungan disekitar kita. Apa jadinya kalo generasi yang akan datang tidak perduli juga akan pentingnya melestarikan alam, Akankah kita tetap bertahan walau alam kita rusak?
            Selain peranan penting dari masyarakat,kurangnya juga perhatian dari pihak pemerintah menjadi salah satu alasan dibalik terjadinya pencemaran sungai deli yang semakin hari semakin parah keadaannya. Seharusnya pihak pemerintah adalah salah satu yang memberikan solusi dimana dapat mengurangi pencemaran sungai deli tetapi tidak pemerintah malah tidak menghiraukan hal tersebut. Seandainya pemerintah mau ikut campur tangan dalam bentuk pelestarian lingkungan mungkin masyarakat akan lebih menyadari bahwa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan khususnya untuk sungai deli. Salah satu kegiatan yang seharusnya pemerintah lakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan yaitu Gotong Royong bersama masyarakat sekitar bantaran sungai deli. Dan menghimbau masyarakat akan bahaya sungai yang telah tercemar akan menimbulkan berbagai penyakit mulai dari diare,kolera,penyakit kulit dan juga demam berdarah.

Cuman disini bisa membaca gratis


Sungai deli riwayatmu kini
Oleh : Nirwan Saputra
Sungai deli adalah satu dari delapan sungai yang dimiliki kota medan, panjangnya sekitar 71,91 KM dengan lebar 5,58 KM sungai deli melintasi tiga Kabupaten/Kota yakni tanah Karo, Medan, dan Deli serdang,sejatinya pada masa kerjaaan sultan deli merupakan jalur perdagangan dari satu daerah ke daerah lain, namun keberadaannya kini seperti terabaikan, kurangnya kesadaran masyakarakat sekitar dalam menjaga lingkungan berdampak pada kualitas air sungai deli. Disepanjang bantaran sungai deli, khususnya kota medan masih banyak terdapat tumpukan gunung sampah dan baik itu berasal dari limbah pabrik maupun dari rumah tangga sungguh sangat ironis sungai deli “Riwayatmu Kini”.
Hal inilah yang terbesit dalam pikiran liarku, ketika melihat kondisi sungai delli, sungai yang seharusnya menjadi salah satu unsur penunjang keindahan kota namun kini seperti tak berguna dan malah memperburuk keindahan kota, kebudayaan membangun rumah membelakangi sungai menambah parah kondisi sungai deli, coba kita bayangkan jika nenek moyang kita memutuskan untuk membangun rumah menghadap sungai tentu sungai akan menjadi tempat yang nyaman dan tempat beristirahat yang enak dan ditemani angina sepoi-sepoi yang semakin membuat kita semakin betah untuk tinggal disektar sungai deli.
Sungai deli dimanfaatkan untuk mencuci, mandi, buang hajad oleh masyarakat sekitar daerah aliran sungai deli, tentu sangat disayangkan kurangnya kesadaran masyakarat akan perilaku hidup sehat akan menjadikan sungai deli sebagainkorban, tumpukan sampah yang menggunung dibantarakan sungai deli bahkan sampah sampah kiriman dari hulu menjadi bendungan sampah disepanjang sungai deli.
Seharusnya sungai juga bisa dimanfaatkan menjadi sarana bermain bagi anak-anak sekitaran daerah aliran sungai deli harus terkontaminasi oleh limbah pabrik dan limbah rumah tangga, untuk merubah perilaku masyarakat yang tidak menjaga lingkungan tentu tidak semudah membalik telapak tangan, dimulai dari hal kecil dulu, yakni dari diri sendiri dan mari sama sama kita maksimalkan kesadaran peduli lingkungan.

Apa lagi dibacalah.


Hilangnya Kesabaran Isi Bumi
Oleh : Wita Asmanijar


                


          

Era zaman industry 4.0, merupakan zaman berbasis teknologi. Tetapi, sangat disayangkan karena kecanggihan teknologi yang tidak mempertimbangkan ramah lingkungan mengakibatkan beberapa kefatalan salah satunya adalah kualitas air sungai deli yang semakin miris atau memprihatinkan. Manusia merupakan predator yang berbahaya bagi bumi, dengan jalan pikiran yang tak pernah puas dengan apa yang telah di capai dan memiliki sifat tamak dan merusak.
 Banyak keindahan alam yang telah kita saksikan dibumi, kenapa kita harus merusaknya? Sesuatu yang tak pernah menggangu, sesuatu yang tak pernah merugikan, tanpa disadari malah memberi kita suatu kehidupan, memberi kita ketenangan dan melindungi kita dari bencana. Kalau tidak kita siapa lagi yang akan menjaga keindahan alam?
Alam juga memiliki rasa sama halnya seperti kita manusia, jadi “Jika Alam Saja Terasa dengan Apa Isi Hati Manusia, Bagaimana Pula Manusia Menjadi Kejam kepada Alam yang Memberikan Udara Segar untuknya hidup?”. 
            Manusia begitu menyedihkan, egois, rakus, sok bekuasa, sombong, dan tidak merasa bersalah terhadap Alam. Andai manusia tau tentang apa yang dirasakan alam ini, habis sudah kesabarannya melihat tingkah manusia yang seperti raja yang berbuat semena-mena terhadap alam. Sebagaimana isi dari Hadits Qudsi yang menyatakan “Tiada suatu malam pun melainkan laut muncul pada-Nya sebanyak 3 kali meminta izin kepada Allah, untuk menenggelamkan mereka (manusia yang ada didaratan, tetapi Allah Azza wa Jalla menahannya).
            Sepenggal hadits diatas, buka hati, buka mata, buka pikiran begitu sayang seorang pencipta kepada umat-Nya tak membiarkan umat-Nya mati dengan sia-sia. Dia yang memberi kehidupan, memberi keindahan, memberi nikmat kehidupan yang tiada terhingga, lantas masih bisakah kita sebagai hamba di depan-Nya?

Yok dibaca


Indahnya Sungai Deli (Tapi Dulu)
Oleh Johanes Simatupang

Sumber:https://id.wikipedia.org
            “Katanya” Sungai Deli itu merupakan cerminan peradaban Kota Medan sejak masa lampau. Sungai yang dahulu dikenal dengan sebutan Sei Deli ini, terletak di ibu kota Provinsi Sumatera Utara, menjadikan sungai ini sangat berjaya di masa Kesultanan Deli. Dengan hulu di Kabupaten Karo dan Kabupaten Deli Serdang, Sungai Deli berhilir ke pusat Kota Medan dan bermuara di Selat Malaka.

            Yang Saya tau Sungai Deli ditetapkan sebagai bagian dari Wilayah Sungai (WS) Belawan-Ular-Padang yang disebut dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 04/PRT/M/2015. Areal DAS Deli memiliki luas 48.162 hektare, dengan panjang 73 kilometer dan lebar 5,58 meter.
Dikutip dari buku berjudul “Jejak Medan Tempo Doloe” yang ditulis oleh Farizal Nasution, kala itu Sungai Deli bagian utara, barat dan timur laut bermukim suku Melayu, bagian barat daya ditempati kelompok etnik Tamil, orang-orang Cina mendiami bagian timur ke arah pusat pasar dan bagian selatan dihuni oleh kaum Eropa.
            Pada tepi Sungai Deli dahulu terdapat “Labuhan Deli”, cikal bakal Pelabuhan Belawan saat ini. Tahun 1915, Labuhan (pelabuhan) Deli dipindahkan ke Belawan karena Sungai Deli yang mulai dangkal menyebabkan kapal sulit berlabuh.
Kerennya lagi Di era kolonial Belanda, perkembangan Kota Medan berpusat di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura. Banyak gedung milik Belanda maupun pengusaha perkebunan dibangun di kawasan tersebut. Sepanjang alur Sungai Deli yang melintasi pusat Kota Medan juga menjadi pemukiman bagi orang-orang Eropa. Apa tidak keren coba? Sepanjang alur Sungai Deli jadi pemukiman bagi orang-orang Eropa.
            Kota Medan pada tahun 1945 mengalami perkembangan pesat. Banyak lahan di sepanjang jalur Sungai Deli yang dibangun perkantoran sehingga kawasan ini terkenal padat aktivitas. Beberapa bangunan yang berada pada daerah ini adalah percetakan, stasiun kereta api, Wisma Benteng, Hotel De Boer (sekarang Grand Inna Medan), de Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia), Deli Maatschappij (sekarang kantor Gubernur Sumatera Utara), hingga de Esplanade (sekarang Lapangan Merdeka).
            Hebatnya lagi… Sungai Deli yang merupakan sungai warisan Kesultanan Deli, dahulunya digunakan sebagai jalur transportasi hasil perkebunan dan tempat penangkapan ikan. Hal tersebut senada dengan yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Sumatera Utara, Edi Sumarno.
Dan.. “Sungai Deli cukup dikenal bahkan sebelum masa kolonial Belanda. Pada awal abad ke-19 dinyatakan bahwa sungai ini adalah sungai penting karena sering dijadikan tempat perdagangan lada dan tembakau. Sungai Deli juga dijadikan sebagai jalur transportasi karena dahulu belum ada kereta api atau pun pesawat terbang. Hal yang terpenting adalah menghubungkan daerah pesisir hingga pedalaman atau antara hulu hingga hilir. Barang-barang dari hulu diekspor ke hilir dan disebarkan ke pasar atau ke semenanjung, dan juga barang-barang dari luar masuk dari pesisir, jadi semacam pertukaran ekonomi,” ungkap Edi.
            Pada tahun 1820-an, Sungai Deli menjadi pusat perdagangan sehingga dijadikan maskot bagi Kesultanan Deli. Kala itu warga juga sangat menjaga kelestarian Sungai Deli, sehingga mayoritas posisi rumah di bantaran Sungai Deli menghadap ke arah sungai.
“Dahulunya posisi rumah menghadap sungai, karena warga sekitar melakukan perdagangan lada, tembakau, madu dan lainnya. Berbeda dengan sekarang, posisi rumah membelakangi sungai, sehingga menyebabkan munculnya pola pikir bahwa sungai itu seakan tidak penting lagi. Apalagi dengan berkembangnya zaman, sungai sekarang malah sebagai tempat sampah,” jelasnya lagi. Oala.. ternyata lebih keren masyarakat zaman dulu daripada sekarang ya.
Okelah, Sekian Indahnya Sungai Deli kebanggaan kita pada zaman dahulu.



Harus dibaca dong

Sungai yang Sehat, Menjadi Sekarat
Oleh : Raimondo Limbong
            “Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan, sayang engkau tak duduk di sampingku kawan. Banyak cerita yang mestinya kau saksikan di sungai deli yang sekarat…” Mungkin ini merupakan nyanyian ataupun syair yang cocok untuk menggambarkan kondisi dari sungai deli saat ini. Kenapa seperti itu? Alasannya karena mirisnya kondisi dari sungai tersebut.
            Saat aku berjalan menyusuri sungai di kampung kelahiranku, saya merasakan udara sejuk, air mengalir yang jernih dan pemandangan yang indah. Berbeda dengan saat saya menyusuri sungai deli saya tidak melihat air di sana, yang terlihat hanya jenis cairan berwarna kuning cokelat, aroma yang menyengat jauh dari kata segar. Sungguh miris melihat kondisi sungai deli saat ini. Yang dahulunya merupakan sumber kehidupan dan sumber mata pencaharian sekarang sudah sekarat, semua cerita hanya tentang sampah… sampah… dan sampah.

Sumber: Merdeka.com
Masyarakat termasuk anak-anak melaksanakan kegiatan 17-an di sungai deli



            Tidak cukup sampai disitu, saat kita menyusuri hulu dari sungai deli pemandangan yang sangat memprihatinkan ialah kondisi hutan yang sudah gundul hal ini akan menyebabkan mudahnya tanah terkikis oleh air. Melihat semua kondisi tersebut apakah kita masih bisa mengatakan bahwa sungai deli itu masih sehat? Apakah kita sanggup mengatakan bahwa sungai deli itu sumber kehidupan? Tidak aka nada satu orang pun yang sanggup mengatakan hal tersebut. Namun di sisi lain masih ada sebagian masyarakat sekitar sungai deli yang masih menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, bahkan anak mereka masih sanggup berenang di sana. Sungguh pemandangan yang indah melihat mereka berenang bersama, bermain bersama dibalik kondisi  sungai deli yang seperti itu.
            Siapakah yang bertanggung jawab atas kelestarian sungai deli? Itu merupakan tanggung jawab semua elemen tak terkecuali, mulai dari pemerintah hingga masyarakat biasa. Karena untuk menjaga kebutuhan kita bukan orang lain, menjaga kesehatan kita juga bukan orang lain tetapi diri kita sendiri.

Mantap kali loh

Mau Dibawa Kemana Sungai Seperti Ini ?
Oleh : Ivana Frandika Siboro


Sumber : Tribun Medan
              
      Sering ku bertanya, mau dibawa kemana sungai seperti ini ? Mau ditunjukkan kemana juga sungai yang menjadi maskot kota medan tercinta ini ? Kemana semua orang ? Tidak peduli ? Ingin menyalahkan siapapun tidak habis-habisnya. Pertanyaan itu yang selalu ku lontarkan saat melihat sungai deli ini.
          Setiap aku kesana selalu bertanya apakah masyarakat tidak berperan untuk menjaga kebersihan sungainya ? Apakah mereka tidak ingin menggunakan air sungai ini ? Jawab mereka yang selalu ku dengar dan hampir terus aku dapatkan, “kami tidak ingin merusak, padahalan kami terus menjaga kebersihan sungai kami. Tetapi mengapa kami disalahkan? Padahalan aliran sungai deli yang sangat luas ini yang mengakibatkan kami harus menerima resiko yang ada. Lalu, kami yang sudah menerima imbasnya, kami terus yang disalahkan. Kami pun ingin menikmati bersihnya sungai kami. Tapi apalah daya kami kemampuan kami dalam menjaga sungai ini hanya segini batasannya”. Dan selalu mereka bertanya seharusnya salahkan pemerintah? Salahkan pemerintah? Ini yang menjadi pertanyaan besarku. Mengapa harus pemerintah ? Dan selalu mereka jawab “Iya salahkan pemerintahnya, kami selalu mengelukan nasib sungai ini. Mulai menemui kepala desa, kelurahan sampai yang tertinggi di kota medan ini. Tapi apa jawaban dari mereka tidak ada, respon pun tidak ada. Kalau pun ada kunjungan itu hanya kerja yang harus dipublik doang padahalan semua itu nol”.
        Terlihat kekesalan masyarakat sekitar sungai tersebut saat diriku menanyakan apa yang seharusnya mereka dapat tapi tak pernah didapat. Hanya kata yang saling menyalahkan mereka. Yang bisa aku simpulkan kalau pun memang masyarakat saja yang berperan, seberapalah usaha mereka dapat menjaga sungai ini. Karena apa, kalau pun mereka menjaga itu hanya bisa membersihkan bagian pinggir sungai. Itu pun syukur bisa mereka ambil karena tumpukan sampah yang begitu menggunung. Kalau pun ada menjaga, itu pun hanya beberapa orang yang akan menjaga sungai itu.
            Sudah tidak perlu lagi ditanya salah siapa, salah pemerintah itu. Itu semua tidak perlu, lalu salah masyarakat ? Itu juga tidak perlu. Malah yang ingin kutanyakan mau dibawa kemana sungai seperti ini. Mau sampai kapan keadaan sungai ini ? Mau sampai kapan saling menyalahkan. Jika semua saling menyalahkan. Kapan bertindaknya, aku ingat pepatah mengatakan “tong kosong nyaring bunyi”. Kata-kata ini yang pantas kalau kita hanya ngomong kami sudah menjaga, kami sudah  mengadu kesana kemari. Tapi itu semua jika tidak ada tindakan maka semua kosong. Tak akan pernah orang-orang melihat ataupun menikmati sungai deli yang bersih, yang bisa dimanfaatkan.

Senin, 09 Maret 2020

“MIRIS”,SUNGAI DELI TERKONTAMINASI OLEH SAMPAH MASYARAKAT MEDAN
Oleh Fainal Lumbanbatu


     Mendengar kata Sungai pasti akan terbayang sebuah Maha Karya Alam yang sangat “ISTIMEWA” tentunya, dimana kita dapat merasakan Indahnya Anugerah Sang Pencipta. Sungai  memiliki peranan penting bagi kehidupan sehari-hari dimana sungai sebagai sumber mata air, manfaat lain yang juga dapat kita peroleh dari sungai yaitu sebagai wahana wisata bermain dan juga sebagai sumber mata pencarian untuk masyarakat. Air sungai mengalir dengan jernih dengan kesegaran yang seakan-akan menghilangkan rasa dahaga dibalik hiruk-pikuk suasana kota. 

Sumber : Dokumentasi Pribadi

              Tetapi miris sungai deli yang dulu konon ceritanya adalah sungai beraliran air jernih berubah menjadi sungai yang beraliran air kumuh,keruh dan dipenuhi sampah-sampah masyarakat. Sungai  deli merupakan salah satu sungai panjang yang ada di kota medan yang menghubungkan mulai dari daerah karo,deli serdang dan kota medan, serta bermuara sampai ke laut belawan. Sepanjang aliran sungai deli masyarakat banyak bergantung hidup mulai dari penyedia air dalam pertanian sampai dengan penyedia air dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya sungai deli untuk kehidupan sebagai penyedia sumber mata air semakin marak. Dimana sampah bertebaran di depanjang tepian sungai deli keruhnya air dan bau yang di keluarkan oleh sungai semakin parah.
        Jika dibiarkan terus-menurus maka sungai deli akan menjadi sebuah bank sampah dari masyarakat yang kurang mengerti akan pentingnya peranan sungai bagi kehidupan sehari-hari. Apabila kita masih terus membuang sampah sembarangan dan pabrik atau perusahaan industri masih membuang sampah ke sungai, hal itu akan membuat  keadaan sungai deli terus menerus memburuk dan itu akan menurunkan kualitas air pada sungai deli tersebut.  Hal sepele yang akan berakibat fatal untuk generasi yang akan mendatang,secara tidak langsung kita mengajarkan mereka untuk tidak perduli akan lingkungan disekitar kita. Apa jadinya kalo generasi yang akan datang tidak perduli juga akan pentingnya melestarikan alam, Akankah kita tetap bertahan walau alam kita rusak?


            Selain peranan penting dari masyarakat,kurangnya juga perhatian dari pihak pemerintah menjadi salah satu alasan dibalik terjadinya pencemaran sungai deli yang semakin hari semakin parah keadaannya. Seharusnya pihak pemerintah adalah salah satu yang memberikan solusi dimana dapat mengurangi pencemaran sungai deli tetapi tidak pemerintah malah tidak menghiraukan hal tersebut. Seandainya pemerintah mau ikut campur tangan dalam bentuk pelestarian lingkungan mungkin masyarakat akan lebih menyadari bahwa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan khususnya untuk sungai deli. Salah satu kegiatan yang seharusnya pemerintah lakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan yaitu Gotong Royong bersama masyarakat sekitar bantaran sungai deli. Dan menghimbau masyarakat akan bahaya sungai yang telah tercemar akan menimbulkan berbagai penyakit mulai dari diare,kolera,penyakit kulit dan juga demam berdarah.
Sungai Deli yang “Katanya” Si Pemenuh Kebutuhan Penduduk Kota Medan
Oleh Johanes Simatupang.

               Sore itu [26/02], ketika sedang nongkrong di warung kopi dan kebetulan aku merasa ingin ke toilet untuk buang air kecil, tetapi ketika aku sampai di kamar mandi akupun sedikit heran walaupun tidak terlalu heran juga karena ternyata air yang ada di toilet warkop yang sedang kudatangi air nya sedikit keruh dan berbau. Setelah aku selesai dari toilet akupun langsung bercerita kepada temanku “air di toiletnya kok bisa seperti tercemar ya?”
            Setelah  itu aku dan teman ku pun langsung mencari informasi tentang mengapa air yang ada di toilet warkop ini bisa keruh, dan usut punya usut ternyata air yang ada di warkop yang sedang ku kunjungi ini berasal dari aliran Sungai Deli. Dan saya pun mencari informasi tentang Sungai Deli.
Sungai Deli merupakan satu dari delapan sungai yang ada di Kota Medan. Sungai tersebut memiliki luas areal DAS mencapai 48.162 ha. Sungai Deli merupakan penyumbang sumber air terbesar bagi penduduk kota Medan.Hulu sungai Deli terletak di dataran tinggi yang berada diantara Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Karo. Luas hutan di hulu Sungai Deli hanya tinggal 3.655 hektar, atau tinggal 7,59 persen dari 48.162 hektar areal DAS Deli.
Dan ternyata Perkembangan industri dan pemukiman di sepanjang aliran sungai deli telah mempengaruhi kualitas air sungai. Penurunan kualitas air ditandai dengan perubahan warna air dan bau padahal, sebahagian masyarakat di pinggiran sungai masih memanfaatkan air Sungai Deli untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk kegiatan memancing. Padahal Berdasarkan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan. 
Ada beberapa Penilaian kualitas badan air untuk suatu peruntukan didasarkan kepada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Penentuan Indeks Pencemaran (IP). Dan pencemaran sungai terjadi apabila kualitas air sungai turun sampai tingkat tertentu sehingga tidak dapat berfungsi sesuai peruntukannya. “Nah ternyata ini toh penyebab dari air yang keruh dan agak berbau tadi” dalam benakku”.

       Dan seketika rasa penasaranku semakin bertambah dan akupun kembali mencari informasi tentang kenapa air di Sungai Deli bisa sampai tercemar. Dan akupun mendapat beberapa informasi. Dari hasil beberapa penelitian yang telah dilakukan meunjukkan bahwa air Sungai Deli telah tercemar ringan untuk peruntukkan air kelas II Berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001. Yang ternyata Hal ini dapat disebabkan karena adanya aktifitas warga yang menggunakan air Sungai Deli dengan memberikan masukan beban pencemar yang cukup tinggi. Serta adanya juga aktifitas industri yang memberikan masuknya beban pencemar ke Sungai Deli. Pencemaran Sungai Deli di wilayah Kabupaten Deli Serdang diduga berasal dari limbah domestik permukiman penduduk berupa tinja dan limbah deterjen, limbah pertanian yang menggunakan pupuk dan pestisida, serta limbah industri. Dan akupun sontak berkata dalam hati “oalah… ternyata begitu banyak alasan mengapa air di Sungai Deli bisa tercemar”.



Dan akupun semakin merasa miris setelah mengetahui padahal pada masa kerajaan Deli, sungai ini menjadi urat nadi perdagangan ke daerah lain. Sebab sungai deli dijadikan jalur transportasi dalam aktivitas perdagangan pada masa itu. Pada masa kejayaannya Sungai Deli memberikan sumbangsi yang cukup besar dalam menumbuhkembangkan Kota Medan.
Tapi menurutku kembali lagi sangat disayangkan akibat rendahnya penghargaan yang diberikan oleh masyarakat kota terhadap sungai akan mengakibatkan sungai mengalami degradasi kualitas juga. Padahal ada kita sudah diajarkan sejak dulu oleh orang tua zaman dahulu tentang Sungai merupakan sumber kehidupan dan penghidupan. Sungai merupakan sumber air bagi banyak mahluk hidup, sungai juga dapat menjadi sumber bencana bagi mahluk hidup. Tetapi ya beginilah realitanya bisa dilihat dari foto-foto di atas.
Tetapi ada hal menarik dibalik foto yang keempat, yaitu bapak Gubernur Sumatera Utara kita Edy Rahmayadi punya rencana besar terhadap Sungai Deli, Medan. Dia ingin sungai itu bisa bersih seperti sungai-sungai di Rusia. Dan aku pun berpikir “wah keren nih, semoga yang diinginkan oleh bapak gubernur kita dapat terwujud” kan keren kali kalau memang bisa diwujudkan sedemikian rupa.
Foto tersebut diabadikan pada saat setelah memberikan sambutan, Edy bersama Wakil Walikota Medan Akhyar Nasution serta para pejabat Pemprov Sumut mengarungi sungai itu. Ikut mengayuh dayung dalam tiga jam pengarungan. Melewati banyak sampah plastik di kiri dan kanan sungai, aliran limbah berbusa, bronjong sungai yang ambruk, sempadan sungai yang dijadikan hunian, maupun bangunan dan beragam masalah lainnya.
Sesaat setelah tiba di ujung pengarungan sungai, di Jembatan Jalan Perdana, Edy pun menyampaikan kegelisahannya, Sungai Deli kotor dan kumuh. “Tuh kan, Pak Edy saja gelisah hehe”  lalu Pak Edy ingin sempadan sungai tersedia kembali. Jadi, orang-orang yang merasa tidak pada tempatnya harus segera menyesuaikan diri. Dia optimistis setiap tahun kondisi sungai akan semakin baik. Masih ada sisa waktu empat tahun masa jabatan lagi untuk mengejar kondisi seperti sungai yang di Rusia itu. “kerenlah itu pasti kan”.
Sungai Bukan Tempat Sampah Berjamaah.
Oleh : Gunplawan Lumban Tobing


Melihat sungai yang ada dikota-kota sekarang ini sunggulah sangat memperhatikan, sudah sangat banyak manusia menyalahgunakan keberadaan sungai itu sendiri, yang mana dulu sungai merupakan sumber air tetapi sekarang kita lihat manusia malah membuat sungai seolah-olah menjadi tempat sampah berjamaah. Salah satu contoh sungai di tengah kota Medan, yaitu sungai Deli. Sungai Deli merupakan penyumbang sumber air terbesar bagi penduduk kota Medan. Kita dapat melihat secara langsung penurunan kualitas air sungai Deli ditandai dengan perubahan warna air dan bau yang menyengat dari sungai akibat tumpukan sampah, padahal sebahagian masyarakat di pinggiran sungai masih memanfaatkan air Sungai Deli untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk kegiatan memancing, mencuci, bahkan ada masyarakat yang masih memanfaatkan sungai Deli untuk aktivitas MCK.
Masyarakat sekitar sungai juga tidak dapat melakukan banyak hal selain menerima keadaan dan menjalani aktifitas seperti biasanya, tetapi sebenarnya mereka juga merasa tidak nyaman pada keadaan sungai tersebut. Jika kita masih terus membuang sampah sembarangan dan pabrik atau perusahaan industri masih membuang sampah ke sungai, hal itu akan membuat  keadaan sungai deli terus menerus memburuk dan itu akan menurunkan kualitas air pada sungai deli tersebut. Kualitas air yang buruk akan membuat masyarakat sekitar hutan mengalami berbagai macam penyakit, mulai dari DBD sampai penyakit kulit.

            
Dengan kita tahu nya sungai Deli yang tercemar ini sudah sepatutnya kita masyarakat kota Medan memberikan solusi untuk mengembalikan kembali fungsi sungai Deli. Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki keadaan sungai Deli, sekarang ini sudah banyak organisasi kepemudaan sekitar kota Medan yang mulai sadar dan melirik betapa perlu nya peran pemuda untuk menggerakan perubahan dibidang lingkungan.
           Saya pernah bergabung dalam kegiatan relawan lingkungan, yang mana kegiatan ini dilakukan disalah satu anak sungai Deli dan langsung melibatkan masyarakat setempat dan juga anak-anak. Kegiatan nya memang sederhana tapi menurut saya, kegiatan ini sangat positif dengan melibatkan masyarakat sekitar sungai. Memang awalnya pasti ada penolakan tetapi saya percaya apapun niat baik yang kita lakukan, semesta akan selalu mendukung.


            Terakhir saran yang dapat saya berikan adalah dengan berfokus pada peningkatan sarana dan prasarana yang bertujuan untuk mengoptimalkan dalam memantau kualitas air sungai secara lebih rutin lagi diikuti dengan meningkatkan program pengawasan yang dilakukan oleh instansi terkait agar dapat meminimalisir pencemaran air sungai dimana hasil pelaksanaan pengawasan dapat digunakan sebagai acuan dalam penegakan hukum. Strategi pengendalian pencemaran air juga dapat tercapai dengan pengaplikasian program-program pengendalian pencemaran yang diwujudkan secara nyata dan meningkatkan kesadaran masyarakat melalui program sosialisasi dan pelatihan untuk dapat menjaga kebersihan dan kelestarian sungai.
SUNGAI  DELI  YANG  BERBALIK ARAH
Oleh : Raimondo Limbong


        Sesuatu hal yang menyenangkan jika kita hidup di sekitaran sungai yang bersih dan jernih. Kenapa tidak? Selain sungai dapat memberikan air sebagai sumber kehidupan,sungai juga dapat memberikan kita beberapa manfaat lainnya, seperti tempat bermain di tepi sungai dan memperoleh ikan untuk kebutuhan sehari-hari.
Sungai  deli merupakan salah satu sungai panjang yang ada di kota medan yakni mulai dari daerah karo dan simalungun sebagai hulu, melewati deli serdang dan kota medan, serta bermuara sampai ke laut belawan. Uniknya sungai deli ini berbeda dengan sungai pada umumnya, dikarenakan sungai ini telah berbalik arah. Berbalik arah dalam hal ini bukan berarti aliran airnya berbalik arah yakni dari hilir ke hulu, tetapi berbalik arah  yang dimaksud adalah berbalik  arah berupa perannya. Ada apa dengan peran sungai deli saat ini? Pertanyaan ini sering kita dengar dan sering diperbincangkan, namun hasilnya tetap nihil. Saat ini peran dari sungai deli sangat jauh dari kata penyedia air bersih dan penyangga kehidupan. perannya saat ini lebih tepatnya sebagai sumber penyakit.
Sumber gambar: pabindonesia.co.id                                    

Terutama di daerah kota medan sungai deli lebih diutamakan sebagai tempat pembuangan sampah sehingga air yang mengalir di sungai sangat tercemar dan akan menjadi sumber penyakit jika manusia mengkonsmsi air dari sungai tersebut.Namun walaupun demikian sungainya sangat kotor dan tercemar, beberapa masyarakat pinggir sungai tersebut masih melakukan beberapa aktifitas di sungai tersebut. Mandi misalnya, masyarakat pinggiran sekitar jl. Brigadir jendral katamso yang berhadapan langsung dengan sugai deli masih ada yang menggunakan sungai deli untuk kegiatan mandi. Bahkan anak-anak mereka tidak segan segan mandi sambil berenang di sungai. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat miris, karena air tercemar tidak akan menjadi sumber penyakit bagi tubuh. Jika terus menerus seperti ini, bagaimana nasib para warga sekitar bantaran sungai deli ke depan?
Melihat di tengah dan di hilir sungai sudah dipenuhi limbah industri dan rumah tangga yang menambah kadar kerusakan ekosistem air sungai. Kadar BOD (Biological Oxygen Demand atau Kebutuhan Oksigen Biologis/ KOB) dan COD (Chemical Oxygen Demand atau Kebutuhan Oksigen Kimiawi/ KOK) sungai, yakni dua indikator pengukuran kualitas air, bahkan diyakini sudah jauh melampaui ambang batas yang ditentukan.
Rendahnya kesadaran lingkungan dan kebiasaan buruk warga serta pengusaha yang membuang limbah di sungai, kian memperburuk kondisi sungai. Sampah rumahtangga dan limbah industri, hotel, rumahsakit bercampur aduk menjadi satu kesatuan. Seolah-olah Sungai Deli beralih fungsi menjadi Tempat Pembuangan Sampah (TPS), bukan lagi tempat mencari nafkah atau tempat untuk menyalurkan hobi. Kerusakan sungai deli semata-mata bukan hanya diakibatkan oleh pembuangan sampah baik itu sampah industry maupun sampah rumah tangga. Pengaruh lainnya adalah kerusakan ruang hijau di hulu sungai deli, penebangan hutan yang dilakukan teus menerus akan berdampak langsung bagi kualitas sungai deli, karena hutan yang gundul akan menghasilkan sungai yang keruh dikarenakan tidak ada lagi vegetasi yang dapat menahan tanah di bantaran sungai tersebut.


Banyaknya faktor pengaruh kualitas air sungai deli, semakin menunjukan bahwa sungai deli benar benar memilki kualitas air cukup rendah. Dengan demikian perlu ditanamkan rasa peduli dan cinta akan sungai kepada masyarakat dan kerja sama dengan pemerinah setempat untuk tujuan mengembalikan kembali arah dan fungsi dari sungai deli. 
Kualitas Air Sungai Deli: Di Pertanyakan!
Oleh : Wita Asmanijar
           Sungai deli merupakan denyut nadi kota Medan dalam perdagangan ke daerah-daerah lain. Sungai deli menjadi jalur transportasi dalam aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat yang melakukan perdagangan. Masa kejayaan sungai deli bermula pada saat kerajaan deli, dimana sungai deli menjadi salah satu sungai dari delapan sungai yang ada di Medan yang menjadi pusat perdagangan silih berganti.
            Delapan sungai utama ini mengelilingi tiga kabupaten sekaligus yaitu sungai Babura, Deli, Tuntungan, Belawan, Bedera, Putih, Sulang-saling, dan Sungai Kera. Perlu diketahui kedelapan sungai ini dalam konsisi waspada. Seperti info yang didapat melalui artikel yang ditulis oleh Ayat Karo-Karo bahwa sungai deli ini merupakan sungai terpanjang yang melewati tiga kabupaten yakni kabupaten Karo, Deli Serdang, dan Medan (Madya).


          Era zaman industry 4.0, merupakan zaman berbasis teknologi. Tetapi, sangat disayangkan karena kecanggihan teknologi yang tidak mempertimbangkan ramah lingkungan mengakibatkan beberapa kefatalan salah satunya adalah kualitas air sungai deli yang semakin miris atau memprihatinkan. Kemodernan teknologi memang meningkatkan segala aktivitas mulai dari pendidikan hingga pekerjaan. Namun, perlu kita sadari bahwa modernisasi ini juga memakan hati sehingga belas kasih kita terhadap alam mulai menurun.
       Kualitas air sungai deli sudah tidak layak konsumsi bagi masyarakat sekitarnya, hal ini disebabkan limbah padat dan cair yang di alirkan ke sungai deli. Limbah perusahaan merupakan limbah yang paling memicu krisisnya kualitas air sungai deli, satu perusahaan saja bisa membunuh sumber daya air. Apalagi dengan beberapa perusahaan yang menjadikan sungai deli sebagai ladang pembuangan limbah. Bukan tidak ada peringatan, hanya saja era ini sudah mengenal ekologi politik. Politikpun sudah memasuki berbagai ranah salah satunya adalah ekologi.
            Sumber daya air “Sungai Deli” menjadi sangat terancam dan harus diwaspadai kesehatannya. Jangankan untuk digunakan sebagai air minum, untuk mencuci pakaian saja dikhawartikan menimbulkan alergi atau iritasi pada kulit dan lain sebagainya. Hal-hal seperti ini harusnya menyentuh hati pemerintah kota Medan untuk melakukan penanggulangan dengan program konservasi air. Untuk menambah pengetahuan kita menurut Badan Pusat Statistik Kota Medan, pencemaran sungai deli 70% di antaranta diakibatkan limbah padat dan cair. Limbah domestik padat atau sampah yang dihasilkan di kota Medan 1.235 ton per hari. Hal ini yang seharusnya menjadi pusat perhatian pemerintah kota Medan.
        Demi kehidupan masyarakat yang lebih baik lagi, hendaknya program konservasi air ini dilakukan dengan baik dan tepat guna. Agar sumber air kota Medan “Sungai Deli” dapat menjadi sumber air bersih kembali. Permasalahan ini juga ditimbulkan oleh penggunaan lahan resapan air dengan tidak tepat guna, seperti pembangunan wisata dibagian lahan resapan air. Himbauan teruntuk kita semua atau individu yang ingin membangun suatu tempat wisata hendaknya memikir dampak negatifnya bagi lingkungan, jangan hanya memikirkan keegoan pribadi.


          Alam juga memiliki rasa sama halnya seperti kita manusia, jadi “Jika Alam Saja Terasa dengan Apa Isi Hati Manusia, Bagaimana Pula Manusia Menjadi Kejam kepada Alam yang Memberikan Udara Segar untuknya hidup?”. Harapan saya sebagai penulis artikel ini, semoga kita bisa bersama-sama melestarikan lingkungan yang sudah menjadi tanggungjawab kita bersama.
APA KABAR SUNGAI DELI YANG DULU KATANYA BIRU BERSIH SEKARANG MENJELMA MENJADI PARIT BESAR YANG JOROK
Oleh : Nirwan Saputra
Sungai merupakan sumber kehidupan yang sangat penting. Jika kondisi lingkungan sungai tercemar, maka kehidupan di dalam maupun di sepanjang aliran sungai akan terancam. Umumnya, sebagian besar sungai yang mengalir di perkotaan sudah tercemar, salah satu faktor penyebabnya adalah kepadatan penduduk tidak sebanding dengan ketersediaan lahan sehingga memaksa sebagian orang untuk menggunakan lahan-lahan yang seharusnya tidak digunakan untuk mendirikan bangunan. Akibatnya, banyak sampah dan limbah yang berada dipinggiran sungai yang menyebabkan sungai menjadi kotor. Begitulah nasib yang dialami sungai deli saat ini, apa yang terjadi? Apa yang kita lihat sekarang? Lebar sungai Deli pun semakin lama semakin sempit seiring bertambahnya jumlah penduduk yang memadati kawasan bantaran sungai sehingga Sungai Deli lebih terlihat seperti parit besar yang membelah kota Medan ditambah beralih fungsinya sungai dengan aktivitas penduduk yang suka membuang sampah di Sungai, baik itu limbah rumah tangga, limbah pabrik menghiasi air yang dulunya bersih seperti lirik lagu “kuala deli airnya biru”, kini hanya sampah yang mengiringi aliran sungai dan kadang tersangkut pada bibir sungai dan pohon-pohon yang dilaluinya.
Jauhh…. Dari keadaan sungai deli yang sekarang, konon katanya sungai deli merupakan urat nadi kehidupan bagi masyarakat sekitar, karena penasaran Sayapun mencari tahu tentang sejarah sungai deli yang katanya merupakan urat nadi kehidupan bagi masyarakat, terutama pada masa kerjaan sungai deli, dan inilah saksi bisu dalam sejarah sungai deli satu dari ke-8 sungai yang ada di Kota Medan yang menghubungkan 3 kabupaten yaitu Kabupaten Karo,Deli Serdang dan Medan.
Aliran sungai yang bermuara ke Selat Malaka membuat Sungai Deli Dahulunya sebagai jalur emas perdagangan Internasional,hal ini bermula saat, Tuanku Panglima Pasutan, Raja Deli ke-3 memindahkan dan membangun Istana Kerajaan Deli sebagai Pusat Pemerintahan pada saat itu dari Kota Medan ke daerah Kampung Alai atau disebut Labuhan Deli, pada Tahun 1728-1761. Kemakmuran kawasan Deli rupanya mengundang para pencari keberuntungan dari mancanegara, diantaranya adalah orang-orang dari dataran China yang telah turut meramaikan Labuhan Deli dari awal mula berdirinya pelabuhan setelah pemindahan Istana.
Jejak kehadiran mereka masih dapat dilihat pada deretan bangunan rumah toko(ruko) kuno disepanjang jalan dan bangunan Klenteng Tridharma di Jalan Pajak Arak kelurahan Pekan Labuhan. Tak hanya itu, perkembangan Labuhan Deli  membuat para pendatang kulit putih, mulai melirik dan mengeksploirasi kawasan ini. Salah satunya adalah John Anderson seorang utusan Gubernur Penang WE Philips, datang ke Labuhan Deli pada Tahun 1823 dalam rangkaian Survei Politik Ekonominya di pantai timur Sumatera bagi kepentingan Inggris.
Pada Tahun 1890 Pelabuhan Belawan Lama akhirnya rampung dan mulai dioperasikan aktivitas bongkar muat tembakau dan komoditas lainnya dari kereta api ke kapal laut dihubungkan.
Pada Tahun 1907, Pelabuhan Belawan diperluas dengan dibukanya bagian baru di wilayah paling ujung dibangun dermaga untuk para pedagang pribumi dan Cina, sedangkan pelabuhan yang lama digunakan untuk pelayaran asing.
Setelah selesai dibangun dermaga tempat sandar kapal yang dikenal dengan pelabuhan Ujung Baru Belawan tersebut difungsikan pada abad ke-20 atau tahun 1920. Sedangkan Bandar Pelabuhan Deli mulai tak berfungsi  akibat dari tingkat sedimentasi dan penyempitan alur sungai Deli. sekarang keberadaan Bandar Labuhan Deli tempat Dermaga itu sudah berganti dengan bangunan kantor UPT Dinas Bina Marga Medan dan pemukiman penduduk.
Yaa.. begitulah sejarah singkat Sungai Deli yang memiliki Panjang 71,91 KM dari hulu hingga hilirnya dan memiliki Multifungsi sekarang dalam kenangan. Dapat kita bayangkan betapa Luasnya Sungai Deli hingga Kapal Layar yang berukuran sedang mampu mengarunginya. Namun Sejarah tinggallah sejarah tak ada lagi Kapal Layar, tak ada pula aktivitas perdagangan Internasional.Sulit untuk tidak menilai pemerintah Kota Medan bersalah lantaran memberikan izin membangun di bantaran Sungai Deli walaupun sudah jelas dalam UU No 11/1974 tentang pengairan lalu digantikan dengan UU No 7 2004 tentang Sumber Daya Air. PP No 25/1991 tentang sungai.

Kamis, 05 Maret 2020

Mantap kali karya ini

Sungaiku Tak Seindah Danau Toba
Oleh : Ivana Frandika Siboro
                 
          Hari itu, hari dimana aku pertama kali mendatangi sungai. Ya sungai ini cukup terkenal dimedan, sungai itu bernama Sungai Deli. Awal pertama kali aku mendatangi sungai ini sangat kaget. Mengapa aku kaget ? Awal aku melihat sungai itu, sungainya berwarna coklat. Aku pikir hanya bagian depan saja yang bewarna begitu ternyata dugaaan ku salah. Hampir sepanjang sungai tersebut semuanya bewarna cokelat. Aku telusurilah sungai ini, dan aku melihat pemandangan dimana pinggir-pinggir tersebut banyak sekali sampah yang di buanga gitu saja, banyak juga sampah yang mengapung di sungai. Sampah-sampah tersebut banyak dari sampah rumahan. sampah tersebut memberikan aroma yang sangat pekat di hidungku. Ya, bau busuk yang ditimbulkan sampah tersebut memberikan aroma bau itu. Aku juga melihat para ibu-ibu yang berada dipinggir sungai. Sedang bercengkrama  satu dengan lain. Sepertinya mereka menikmati sungai deli. Para ibu-ibu tersebut sedang menyuci pakaian mereka, dengan membawa ember, brush kain, dan sambil cuci. Para ibu-ibu juga membawa anak-anaknya untuk mandi disungai. Pikiran ku melihat sungai yang sudah bewarna cokelat, dipenuhi sampah, ditambah lagi para ibu-ibu menyuci kain. Hal itu pasti membuat sungai semakin tercemar. Pikirku sungai yang menjadi maskot kota medan seharusnya bisa mengalahkan keindahan danau toba. Tetapi kenyataannya, sungai ini lebih buruk jika dibandingkan dengan sungai yang berada disekitarku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menanyakan kepada para ibu-ibu sekitar. Aku bertanya, “apakah ibu tidak merasa jijik untuk mencuci disini”. Jawab mereka dengan senyuman “tidak nak”. Sedikit membingungkan bagiku, mengapa mereka menjawab tidak padahalan jika dilihat sungai ini pasti tidak ada yang mau untuk mandi. Jangankan untuk mandi untuk menyentuh sungai ini pasti tidak mau. Seperti diriku yang pertama kali melihat keadaan sungai deli. Setelah aku bertanya banyak hal mengapa mau untuk ke sungai ini. Ternyata para ibu-ibu ini dari kalangan bahwa, menurut mereka sangat sulit mendapat air bersih, jangan air bersih untuk mandi saja air disungai tidak jauh berbeda dengan air yang berada di rumah mereka. Kenapa mereka tidak bisa mendapatkan air bersih padahalan PDAM sudah ada alasan mereka kebanyakan karena biaya sangat mahal. Jadi mereka memilih untuk langsung kesungai saja daripada dirumah lebih hemat juga dibandingkan menyuci dirumah dan mandi karena tidak pelu menghidupkan listrik. Aku juga bertanya apakah air yang bewarna cokelat ini tidak menimbulkan. Jawab mereka rata-rata sering juga gatal-gatal tetapi mau bilang gimana air mereka juga sama saja dengan disungai. Kulihat lagi wajah anak-anak yang sangat menikmati berenang, berlari di air sungai ini padahalan kalau dipikir-pikir kuman penyakit sangat banyak. 
              Dan sinilah ideku muncul untuk membuat bagaimana masyarakat bisa menikmati air bersih secara gratis. Aku membawa sampel air yang berasal dari rumah mereka. Ternyata selama ini air sumur mereka, berasal dari sungai tersbut. Itulah sebabnya tidak ada yang membedakan air disungai dan air dirumah mereka. Setelah aku ambil sampel ternyata air dirumah mereka bewarna kekeruhan seperti kuning, memiliki rasa asin, dan berbau. Setelah aku membawa sampel air tersebut untuk uji lab ternyata ada kandungan Fe dan Mn didalamnya. Jika sudah ada Fe dan Mn didalamnya sudah pasti banyak sekali kuman penyakit di sungai tersebut. Padahalan kalau hanya dilihat begitu air sungai deli hanya bewarna cokelat tanpa tahu didalamnya beribu ataupun ratusan penyakit didalamnya. Itulah sebabnya dari sungai deli ini aku terinspirasi membuat suatu karya tulis. Jika dibandingkan sungai deli yang menjadi maskotnya medanku. Dengan danau toba yang merupakan maskotnya sumatera utara sangatlah jauh berbeda padahalan sama-sama maskot. Sebenarnya disini kesadaran kita semua, terutama untuk masyarakat sekitar. Seharusnya mereka harus lebih menjaga kebersihannya. Dengan tidak membuang sampahnya kesungai karena apa jika mereka airnya berasal dari sungai deli seharusnya mereka lebih menjaga akan kebersihan sungai tersebut. Bukan menambah sungai untuk tercemar lagi. Untuk peran masyarakat dan pemerintah sangat penting, Jika sungai bersih pasti banyak orang yang mengunjungi sungai tersebut seperti danau toba. 

Wajib dibaca dongs

GOOD BYE SUNGAI DELI Oleh Gunplawan Lumban Tobing            Menyusuri pemukiman yang berada dibelakang gedung pencakar langit tepat...